Selasa, 29 September 2015

Belajar Filsafat



REFLEKSI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
(16 september  2015, 12:40-14:40)
Belajar Filsafat
Dalam kuliah filsafat pendidikan matematika yang dibersamai oleh Prof. Dr. Marsigit, filsafat dipelajari dimana saja, contohnya filsafat sekolah dasar, filsafat pendidikan matematika sekolah negeri, perbatasan, semuanya masih relevan. Tetapi, semakin kearah yang lebih jauh, maka adanya filsafat. Kuliah filsafat pendidikan matematika, biologi atau apapun itu bisa, sekalipun yang tidak relevan tentunya akan didapatkan relevansinya. Adapun filsafat pendidikan menyangkut banyak hal, dari yang paling mudah disebutkan hingga yang paling susah untuk disebutkan. Filsafat Negara juga ada, filsafat pendidikan, filsafat barat, filsafat selatan, tentunya banyak sekali.
Dengan kata lain, filsafat pendidikan matematika tetapi kita harus mengenal atau mempelajari filsafat terlebih dahulu sebelum mempelajari filsafat pendidikan matematika. Hal yang dipelajari dalam filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ada seperti banyak, banyak seperti semilyar, bahkan itu belum selesai tentang yang ada. Misalnya warna bus, warna baju dan sebagainya, itu pun belum selesai dengan yang anda ketahui. Tahukah anda satu milyar pangkat milyar? Satu milyar pangkat satu milyar pun belum tentu itu sudah selesai anda sebutkan. Apakah anda bisa menyebutkan apa yang anda tidak ketahui, seperti besar, jauh, tinggi besar dan lain sebagainya.
Proses terjadinya yang mungkin ada menjadi ada, praktik dalam filsafat juga ada. Misalnya siapa yang tahu tanggal lahir cucu Prof. Dr. Marsigit? Kedudukan dari tanggal lahir cucu beliau masih belum kita ketahui.. Jika anda ingin tahu maka itulah praktik filsafat. Perbedaan antara anda mengetahui tanggal lahir dan tidak mengetahui akan dibahas dalam filsafat. Hal ini sama saja seperti “wahyu”. “wahyu” yang dimaksud adalah tanggal lahir dari cucu Prof. Dr. Marsigit.  Untuk menerima “wahyu” maka setiap orang harus siap. Tanggal lahir dari cucu beliau adalah 24 Desember 2011. “wahyu” ada didalam pikiran sehingga tidak apa-apa jika diminta oleh orang lain. “wahyu” adalah pengetahuan.
Alat berfilsafat adalah bahasa analog, bahasa analog lebih tinggi dari bahasa kiasan. Jika ada hati dan pikiran maka bisa saja Tuhan, akhirat. Jika pikiran, bisa saja dunia. Maka bahasa analog itulah yang digunakan pada elegy. Dengan bahasa analog/elegy maka dapat disampaikan sesuatu yang sulit. Karena bahasa biasa terbatas ruang dan waktu.
Jika seseorang sedang berlari, dan ketika dia bersifat maka dia harus berhenti sejenak, memikirkannya. Termasuk mau kemana, lari kemana, itu menjadi tidak mudah lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar